The Coming Swarm: Edisi Bahasa Indonesia
Masuk sebagai member untuk mulai membaca dan menyimpan progres.
Silakan masuk untuk mengakses fitur baca.
Ringkasan
Ketika jalanan menjadi tempat orang berkumpul untuk menyampaikan protes, berdemonstrasi, atau menentang kekuasaan, muncul sebuah pertanyaan yang semakin relevan di zaman digital: bagaimana manusia melakukan hal yang sama di internet?
Dalam The Coming Swarm: DDoS Actions, Hacktivism, and Civil Disobedience on the Internet, Molly Sauter mengajak pembaca menelusuri salah satu bentuk aktivisme digital yang paling kontroversial, yaitu penggunaan Distributed Denial of Service atau DDoS sebagai alat protes politik.
Di dunia keamanan siber, DDoS umumnya dikenal sebagai tindakan yang membanjiri layanan daring dengan lalu lintas hingga mengganggu akses pengguna. Namun, Sauter mencoba melihat fenomena tersebut dari sudut pandang yang berbeda. Ia mempertanyakan apakah setiap tindakan DDoS harus dipahami semata-mata sebagai serangan kriminal, atau apakah dalam situasi tertentu tindakan tersebut juga dapat dilihat sebagai bentuk pembangkangan sipil yang lahir dari ketidakpuasan terhadap kekuasaan.
Buku ini membuka pembahasannya melalui peristiwa yang berkaitan dengan WikiLeaks pada 2010. Ketika sejumlah perusahaan menghentikan layanan atau dukungan terhadap organisasi tersebut, kelompok Anonymous melancarkan serangkaian aksi digital yang dikenal sebagai Operation Payback. Peristiwa ini menjadi salah satu contoh bagaimana konflik politik tidak lagi hanya berlangsung di jalanan, gedung pemerintahan, atau ruang publik, melainkan juga merambah ke infrastruktur internet.
Melalui berbagai peristiwa tersebut, Sauter membawa pembaca meninjau sejarah pembangkangan sipil dan membandingkan aksi protes digital dengan demonstrasi, pemogokan, boikot, serta pendudukan ruang publik. Perbandingan ini membuka pertanyaan tentang bagaimana konsep protes berubah ketika masyarakat semakin bergantung pada teknologi.
Salah satu gagasan penting dalam buku ini adalah persoalan ruang publik di internet. Jalanan dan taman kota menyediakan tempat bagi masyarakat untuk berkumpul dan menyuarakan pendapat. Sebaliknya, sebagian besar ruang digital berada di bawah kendali perusahaan, penyedia layanan, dan pemilik infrastruktur. Kondisi tersebut menimbulkan tantangan tersendiri bagi kelompok yang ingin melakukan protes secara terbuka.
Sauter juga membahas bagaimana media membentuk persepsi masyarakat terhadap aktivis digital. Kelompok yang menggunakan teknologi untuk menyampaikan tuntutan politik dapat digambarkan sebagai peretas, pengganggu, bahkan teroris siber, sementara motivasi sosial dan politik yang melatarbelakangi tindakan mereka sering kali kurang mendapatkan perhatian.
Pembahasan kemudian bergerak menuju persoalan identitas dan anonimitas. Melalui kelompok seperti Anonymous, buku ini memperlihatkan bagaimana gerakan tanpa kepemimpinan terpusat dapat membangun identitas kolektif, menarik partisipasi, sekaligus menghadapi persoalan tanggung jawab individu dan konsekuensi hukum.
Selain sejarah dan politik, The Coming Swarm turut mengkaji hubungan antara rancangan teknologi dan bentuk aktivisme yang dihasilkan. Perangkat digital tidak hanya menentukan apa yang dapat dilakukan seseorang, tetapi juga memengaruhi bagaimana orang berpartisipasi, berorganisasi, dan memahami tindakan politiknya.
Di bagian akhir, Sauter membahas respons pemerintah dan perusahaan terhadap aksi DDoS, termasuk bagaimana kebijakan keamanan siber, penegakan hukum, dan kepentingan korporasi dapat memengaruhi ruang gerak aktivisme digital.
The Coming Swarm pada akhirnya bukan sekadar buku tentang DDoS atau kelompok peretas. Ini adalah kajian tentang demokrasi, kebebasan berekspresi, kekuasaan, dan perubahan bentuk perlawanan di tengah kehidupan manusia yang semakin terhubung dengan internet.
Buku ini cocok bagi pembaca yang tertarik pada keamanan siber, masyarakat digital, politik teknologi, sejarah internet, hak digital, serta hubungan antara perkembangan teknologi dan kebebasan sipil.
Informasi Edisi dan Lisensi
The Coming Swarm karya Molly Sauter pertama kali diterbitkan oleh Bloomsbury Academic pada 2014 dan tersedia secara terbuka berdasarkan lisensi Creative Commons Attribution-NonCommercial 3.0 (CC BY-NC 3.0).
Edisi bahasa Indonesia yang tersedia dalam koleksi Imaji.id merupakan adaptasi terjemahan dari karya berbahasa Inggris. Terjemahan ini bukan edisi resmi yang diterbitkan Bloomsbury Academic dan tidak menunjukkan adanya dukungan atau pengesahan dari penulis maupun penerbit asli.
Karya asli © 2014 Molly Sauter, diterbitkan oleh Bloomsbury Academic.
Lisensi sumber: https://creativecommons.org/licenses/by-nc/3.0/
Akses membaca melalui Imaji.id disediakan untuk mendukung kegiatan literasi dan pembelajaran nonkomersial.
Ulasan Pembaca
Belum ada ulasan. Jadilah yang pertama berbagi pendapat.
Tulis ulasan Anda
Silakan masuk untuk menulis ulasan.
Buku Serupa
Lihat semua
Seni Hidup Tenang di Usia Muda
Genre sama
Girl, Interrupted: Edisi Bahasa Indonesia
Genre sama
Di Bawah Lentera Merah
Genre sama
Talking to My Daughter About the Economy: Edisi Bahasa Indonesia
Genre sama
The Undercover Economist Strikes Back: Edisi Bahasa Indonesia
Genre sama
Islam Tuhan, Islam Manusia
Genre sama
Radikalisme Lokal: Oposisi dan Perlawanan terhadap Pendudukan Jepang di Jawa
Genre sama
LikeWar: Edisi Bahasa Indonesia
Genre sama
Seni Hidup Tenang di Usia Muda
Genre sama
Girl, Interrupted: Edisi Bahasa Indonesia
Genre sama
Di Bawah Lentera Merah
Genre sama
Talking to My Daughter About the Economy: Edisi Bahasa Indonesia
Genre sama
The Undercover Economist Strikes Back: Edisi Bahasa Indonesia
Genre sama
Islam Tuhan, Islam Manusia
Genre sama